Buku “Siapa Humas?” merupakan sebuah panduan praktis
yang menjelaskan dunia kehumasan dengan bahasa yang sederhana, dan mudah
dimengerti oleh orang awam melalui gaya penulisan storytelling. Penulis
menghadirkan pembahasan yang dekat dengan kehidupan kerja sehari-hari seorang
humas (hubungan masyarakat), membuat pembaca seolah diajak berbicara langsung mengenai pengalaman dan
tantangan profesi ini. Buku ini menguraikan bagaimana humas
bekerja sebagai garda terdepan dalam komunikasi, membangun hubungan dengan
publik, dan menjaga reputasi lembaga di tengah perkembangan teknologi digital
yang semakin cepat.
Penulis
menekankan bahwa humas bukan hanya tentang penampilan atau kemampuan berbicara
saja, melainkan profesi yang menuntut keterampilan multitalenta mulai dari
menulis, mengelola konten digital, berinteraksi dengan media, hingga membaca
situasi krisis. Penjelasan mengenai peran, gaya kerja, tantangan, dan peluang
humas dikemas secara ringkas, sehingga buku ini relevan tidak hanya bagi para
praktisi, tetapi juga bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin memahami
dinamika dunia kehumasan, khususnya di era digital dan media sosial.
Selain itu, buku ini mengambarkan bagaimana humas bekerja? bagaimana mereka beradaptasi? apa saja yang harus dimiliki oleh seorang humas? dan bagaimana peran mereka menjadi semakin strategis bagi organisasi?.
Buku “Siapa Humas?” karya Thoriq Ramadani, Ketua
IPRAHUMAS membahas peran
dan dinamika profesi humas secara menyeluruh, mulai dari konsep dasar hingga
praktik di lapangan. Buku ini dibagi ke dalam beberapa bagian utama yang
menggambarkan bagaimana humas bekerja sebagai komunikator, jembatan informasi,
pengelola citra, hingga fasilitator hubungan antara organisasi dan publiknya.
Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa humas tidak
selalu berasal dari latar belakang pendidikan komunikasi, namun siapa pun dapat
menjadi humas selama memahami tugas utamanya: menyampaikan informasi dengan
tepat, menjaga hubungan dengan stakeholder, serta memastikan pesan
organisasi diterima dengan baik. Penulis menggambarkan bahwa humas dituntut
serba bisa mulai dari menulis berita, mengelola konferensi pers, mengambil dan
mengedit foto atau video kegiatan, membuat desain poster, hingga mengatur konten
media sosial.
Bagian berikutnya membahas pentingnya memiliki acuan
kerja seperti standard operating procedure (SOP), Petunjuk teknis (juknis), atau protokol
komunikasi, terutama saat menghadapi situasi krisis. Kreativitas juga menjadi
aspek penting dalam kehumasan, diikuti dengan ketahanan mental agar tidak mudah
baper serta kemampuan merencanakan kegiatan melalui to-do list hingga evaluasi
kerja. Penulis menegaskan empat peran utama humas, yaitu penasihat ahli, fasilitator
komunikasi, fasilitator pemecahan masalah, dan penyedia layanan teknis.
Memasuki bab Humas Digital, buku ini menyoroti
perubahan signifikan dalam pekerjaan humas akibat perkembangan teknologi
internet. Penulis menjelaskan bagaimana humas dapat memanfaatkan media digital
untuk mempercepat penyebaran informasi, memilih bauran media yang tepat (iklan
berbayar, publikasi media massa, media sosial, atau kegiatan tatap muka), serta
pentingnya selalu up to date terhadap isu terkini. Dalam pengelolaan media
sosial, humas perlu menciptakan konten unik, informatif, dan menarik, serta membangun
kedekatan dengan warganet melalui giveaway, greeting harian, penggunaan bahasa
daerah, hingga interaksi aktif di kolom komentar.
Pada bagian Gaya Kerja Humas, penulis
menggambarkan bahwa humas harus fleksibel, berpenampilan representatif, serta
memiliki kemampuan komunikasi yang kuat. Ia memaparkan delapan langkah
penyusunan strategi komunikasi mulai dari menetapkan komunikator, menentukan
target audiens, merumuskan pesan, memilih media, melakukan uji materi
komunikasi, memproduksi media, menyebarluaskan pesan, hingga mengukur pengaruh
yang ditimbulkan.
Pada bab Tantangan Humas ke Depan, disebutkan
bahwa humas harus mampu menghadapi arus informasi yang semakin cepat dan
kompetitif, termasuk menangkal hoaks dengan cara memeriksa kredibilitas sumber,
judul, serta melakukan pengecekan fakta melalui teknologi. Pemanfaatan big data
juga menjadi peluang untuk mengembangkan program komunikasi yang lebih terarah.
Bagian akhir buku membahas peluang humas dalam menggerakkan gerakan sosial sebagai strategi membangun kedekatan dengan masyarakat. Gerakan seperti berbagi informasi, pertukaran gagasan, dan kampanye sosial dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan awareness sekaligus membentuk citra positif organisasi.
Buku ini ditulis dengan gaya penceritaan yang sangat baik, sehingga pembaca mudah memahami isi materi. Bahasa yang digunakan terasa seperti mendengar pengalaman seseorang secara langsung santai, sehari-hari, dan mudah diikuti. Tanpa disadari, pembaca juga memperoleh pengetahuan baru yang menarik melalui cara penyampaian tersebut.
Buku ini terasa cukup singkat dalam membahas berbagai topik yang disajikan. Namun, hal tersebut tampaknya memang ditujukan bagi pembaca agar dengan pembahasan yang ringkas, materi menjadi lebih mudah dipahami dan tidak membingungkan.
Secara
keseluruhan, “Siapa Humas?” merupakan buku yang informatif dan relevan
bagi siapa pun yang ingin memahami dunia humas secara praktis dan kontekstual.
Dengan gaya bahasa yang ringan, penulis berhasil menguraikan peran, tantangan,
dan keterampilan yang harus dimiliki oleh humas, terutama di era digital yang
serba cepat. Buku ini memberikan perspektif bahwa humas bukan hanya pekerjaan
teknis, tetapi profesi strategis yang menuntut kreativitas, ketelitian,
kemampuan adaptasi, hingga sensitivitas terhadap isu publik.
Selain
itu, buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, pemula di bidang komunikasi,
ataupun praktisi humas yang ingin memperkaya wawasan kerja sehari-hari. “Siapa
Humas?” berhasil memberikan gambaran menyeluruh tentang profesi humas yang
dinamis dan terus berkembang, serta menegaskan pentingnya humas sebagai garda
terdepan dalam membangun hubungan antara organisasi dan publik atau para stakeholder.
Biografi Peresensi
Shidqi Syahrudin, alumni mahasiswa School of Communications and Social Science Telkom University.

Social Media