BLANTERORIONv101

Siapa Humas? Mengenal Ujung Tombak Komunikasi

5 Juni 2026



Penulis: Thoriq Ramadani
Penerbit: Bibliosmia Karya Indonesia
Kota: Jakarta
Cetakan: Cetakan 1, Mei 2020
ISBN: 978-623-91657-6-5 
Halaman: 113 halaman
Harga: Rp. 65.000
Peresensi: Shidqi Syahrudin

Buku “Siapa Humas?” merupakan sebuah panduan praktis yang menjelaskan dunia kehumasan dengan bahasa yang sederhana, dan mudah dimengerti oleh orang awam melalui gaya penulisan storytelling. Penulis menghadirkan pembahasan yang dekat dengan kehidupan kerja sehari-hari seorang humas (hubungan masyarakat), membuat pembaca seolah diajak berbicara langsung mengenai pengalaman dan tantangan profesi ini. Buku ini menguraikan bagaimana humas bekerja sebagai garda terdepan dalam komunikasi, membangun hubungan dengan publik, dan menjaga reputasi lembaga di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.

Penulis menekankan bahwa humas bukan hanya tentang penampilan atau kemampuan berbicara saja, melainkan profesi yang menuntut keterampilan multitalenta mulai dari menulis, mengelola konten digital, berinteraksi dengan media, hingga membaca situasi krisis. Penjelasan mengenai peran, gaya kerja, tantangan, dan peluang humas dikemas secara ringkas, sehingga buku ini relevan tidak hanya bagi para praktisi, tetapi juga bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin memahami dinamika dunia kehumasan, khususnya di era digital dan media sosial.

Selain itu, buku ini mengambarkan bagaimana humas bekerja? bagaimana mereka beradaptasi? apa saja yang harus dimiliki oleh seorang humas? dan bagaimana peran mereka menjadi semakin strategis bagi organisasi?.

Buku “Siapa Humas?” karya Thoriq Ramadani, Ketua IPRAHUMAS membahas peran dan dinamika profesi humas secara menyeluruh, mulai dari konsep dasar hingga praktik di lapangan. Buku ini dibagi ke dalam beberapa bagian utama yang menggambarkan bagaimana humas bekerja sebagai komunikator, jembatan informasi, pengelola citra, hingga fasilitator hubungan antara organisasi dan publiknya.

Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa humas tidak selalu berasal dari latar belakang pendidikan komunikasi, namun siapa pun dapat menjadi humas selama memahami tugas utamanya: menyampaikan informasi dengan tepat, menjaga hubungan dengan stakeholder, serta memastikan pesan organisasi diterima dengan baik. Penulis menggambarkan bahwa humas dituntut serba bisa mulai dari menulis berita, mengelola konferensi pers, mengambil dan mengedit foto atau video kegiatan, membuat desain poster, hingga mengatur konten media sosial.

Bagian berikutnya membahas pentingnya memiliki acuan kerja seperti standard operating procedure (SOP), Petunjuk teknis (juknis), atau protokol komunikasi, terutama saat menghadapi situasi krisis. Kreativitas juga menjadi aspek penting dalam kehumasan, diikuti dengan ketahanan mental agar tidak mudah baper serta kemampuan merencanakan kegiatan melalui to-do list hingga evaluasi kerja. Penulis menegaskan empat peran utama humas, yaitu penasihat ahli, fasilitator komunikasi, fasilitator pemecahan masalah, dan penyedia layanan teknis.

Memasuki bab Humas Digital, buku ini menyoroti perubahan signifikan dalam pekerjaan humas akibat perkembangan teknologi internet. Penulis menjelaskan bagaimana humas dapat memanfaatkan media digital untuk mempercepat penyebaran informasi, memilih bauran media yang tepat (iklan berbayar, publikasi media massa, media sosial, atau kegiatan tatap muka), serta pentingnya selalu up to date terhadap isu terkini. Dalam pengelolaan media sosial, humas perlu menciptakan konten unik, informatif, dan menarik, serta membangun kedekatan dengan warganet melalui giveaway, greeting harian, penggunaan bahasa daerah, hingga interaksi aktif di kolom komentar.

Pada bagian Gaya Kerja Humas, penulis menggambarkan bahwa humas harus fleksibel, berpenampilan representatif, serta memiliki kemampuan komunikasi yang kuat. Ia memaparkan delapan langkah penyusunan strategi komunikasi mulai dari menetapkan komunikator, menentukan target audiens, merumuskan pesan, memilih media, melakukan uji materi komunikasi, memproduksi media, menyebarluaskan pesan, hingga mengukur pengaruh yang ditimbulkan.

Pada bab Tantangan Humas ke Depan, disebutkan bahwa humas harus mampu menghadapi arus informasi yang semakin cepat dan kompetitif, termasuk menangkal hoaks dengan cara memeriksa kredibilitas sumber, judul, serta melakukan pengecekan fakta melalui teknologi. Pemanfaatan big data juga menjadi peluang untuk mengembangkan program komunikasi yang lebih terarah.

Bagian akhir buku membahas peluang humas dalam menggerakkan gerakan sosial sebagai strategi membangun kedekatan dengan masyarakat. Gerakan seperti berbagi informasi, pertukaran gagasan, dan kampanye sosial dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan awareness sekaligus membentuk citra positif organisasi.

Buku ini ditulis dengan gaya penceritaan yang sangat baik, sehingga pembaca mudah memahami isi materi. Bahasa yang digunakan terasa seperti mendengar pengalaman seseorang secara langsung santai, sehari-hari, dan mudah diikuti. Tanpa disadari, pembaca juga memperoleh pengetahuan baru yang menarik melalui cara penyampaian tersebut.

Buku ini terasa cukup singkat dalam membahas berbagai topik yang disajikan. Namun, hal tersebut tampaknya memang ditujukan bagi pembaca agar dengan pembahasan yang ringkas, materi menjadi lebih mudah dipahami dan tidak membingungkan.

Secara keseluruhan, “Siapa Humas?” merupakan buku yang informatif dan relevan bagi siapa pun yang ingin memahami dunia humas secara praktis dan kontekstual. Dengan gaya bahasa yang ringan, penulis berhasil menguraikan peran, tantangan, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh humas, terutama di era digital yang serba cepat. Buku ini memberikan perspektif bahwa humas bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi profesi strategis yang menuntut kreativitas, ketelitian, kemampuan adaptasi, hingga sensitivitas terhadap isu publik.

Selain itu, buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, pemula di bidang komunikasi, ataupun praktisi humas yang ingin memperkaya wawasan kerja sehari-hari. “Siapa Humas?” berhasil memberikan gambaran menyeluruh tentang profesi humas yang dinamis dan terus berkembang, serta menegaskan pentingnya humas sebagai garda terdepan dalam membangun hubungan antara organisasi dan publik atau para stakeholder.

Biografi Peresensi

Shidqi Syahrudin, alumni mahasiswa School of Communications and Social Science Telkom University.

Terus Menulis
Komunitas belajar bersama membudayakan aktivitas meneliti dan menulis ilmiah untuk membumikan gagasan dan memperluas cakupan pembaca

Komentar