BLANTERORIONv101

Persia dan Nusantara: Kontribusi Ulama Persia dalam Kebudayaan Islam Indonesia

1 Agustus 2026

Kota Persepolis (Sumber: UNESCO World Heritage Convention)

Konflik geopolitik di Timur Tengah terus menunjukkan dinamika yang kompleks. Namun, di luar dinamika politik modern, Iran memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari peradaban besar yang dahulu dikenal sebagai Persia. Persia bukan hanya sekadar identitas bangsa atau batas wilayah geopolitik, melainkan sebuah pusat peradaban, kebudayaan, dan kehormatan sejarah yang pernah memengaruhi perjalanan dunia.

Rasulullah SAW telah mengisyaratkan bahwa wilayah Persia kelak akan menjadi bagian dari bentang peradaban Islam. Isyarat sejarah ini menemukan bentuknya ketika Putri Syahrbanu, putri dari Kaisar Persia terakhir, Yazdegerd III, menikah dengan Imam Husain bin Ali (cucu Rasulullah SAW). Pernikahan ini terjadi setelah wilayah Persia terintegrasi ke dalam pemerintahan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Setelah menjadi bagian dari dunia Islam, kawasan Persia berkembang pesat menjadi salah satu pusat peradaban utama, khususnya pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada era keemasan ini, ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan berdirinya Baitul Hikmah, yang melahirkan banyak ilmuwan dan cendekiawan Muslim terkemuka. Wilayah pengaruh Islam pun semakin meluas hingga menjangkau Asia, Afrika, dan sebagian Eropa.

Bagi Indonesia, Persia bukan sekadar wilayah geografis yang jauh, melainkan salah satu pilar penting dalam sejarah syiar Islam di Nusantara. Banyak penyebar agama Islam di Nusantara merupakan ulama asal Persia atau murid dari ulama-ulama Persia. Jejak kontribusi mereka masih dapat dijumpai hingga hari ini, antara lain melalui ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dan tradisi ejaan Persia dalam pembacaan Al-Qur’an.

Tarekat Naqsyabandiyah (yang oleh K.F. Holle dicatat sebagai Nasqsjibendijah) merupakan tarekat besar dunia yang didirikan oleh Bahauddin An-Naqsyabandi di Bukhara—wilayah yang saat itu berada dalam lingkup kebudayaan Persia. Teks-teks utama Tarekat Naqsyabandiyah pada awalnya berwawasan bahasa Persia, sebelum kemudian diterjemahkan dan dikembangkan oleh para cendekiawan seperti Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin ‘Alan (murid Syaikh Tajuddin Al-Hindi), sehingga diterima secara luas di kalangan masyarakat Arab.

Di Nusantara, tarekat ini dipelopori dan disebarkan oleh Syaikh Ismail Al-Minangkabawi. Beliau menerima pembaiatan dari gurunya, Syaikh Khalid Al-Kurdi. Gelar Al-Kurdi menunjukkan bahwa guru beliau berasal dari kawasan Kurdistan, wilayah yang dihuni oleh Suku Kurdi dan berada dalam lingkup kebudayaan Persia. Selain itu, sejumlah tokoh ulama Nusantara seperti Nuruddin Ar-Raniri, Abdurrauf As-Singkili, dan Syekh Yusuf Al-Maqassari juga terhubung dengan jaringan keilmuan ulama Persia melalui silsilah guru seperti Tajuddin Al-Hindi, Umar bin Abdullah Al-Bashri, Ba Syaiban, dan Ali At-Thabari. Hingga kini, Tarekat Naqsyabandiyah tetap berkembang di Indonesia dan berintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah menjadi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).

Jejak peninggalan ulama Persia lainnya adalah metode mengeja Al-Qur’an. Jika pada umumnya pembacaan ejaan Al-Qur’an menggunakan istilah Arab (fathah, kasrah, dan dhammah), di beberapa daerah di Indonesia justru dikenal istilah ejaan Farsi (jabar, kajer, dan kafes). Sebagai contoh: alif jabar a, alif kajer i, dan alif kafes u. Tradisi ejaan ini terutama berkembang di wilayah yang dahulu dipengaruhi oleh Kesultanan Cirebon, seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, serta sebagian Brebes. Tradisi ini sejalan dengan penyebaran gaya penulisan kaligrafi Arab-Farsi (Kufi Timur), yang juga terlihat pada inskripsi batu nisan Sultan Malik As-Saleh di Samudera Pasai, Aceh. Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya metode pembacaan modern seperti Iqra dan Amtsilati, tradisi ejaan Farsi ini mulai surut.

Di bidang sastra, pengaruh kebudayaan Persia juga sangat terasa. Sejarawan R.O. Winstedt dalam penelitiannya mengemukakan adanya pengaruh kuat sastra Persia dalam naskah-naskah Melayu klasik, salah satunya Hikayat Raja-Raja Pasai. Pengaruh tersebut terlihat jelas pada deskripsi pertempuran antara tokoh pahlawan Samudera Pasai, Tun Berahim Bapa, melawan Pendekar Keling. Pola penggambaran adegan tersebut memiliki kemiripan dengan epos pertarungan Rustam dan Sohrab dalam mahakarya Shah-Nameh karangan Firdausi, pujangga besar Persia abad ke-10 Masehi.

Demikianlah para ulama dan kebudayaan Persia memberikan warna serta kontribusi sejarah yang amat berharga bagi peradaban Islam di Nusantara. Khazanah keilmuan Islam sejatinya sangat luas dan melampaui batas-batas geografis maupun mazhab, sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya tokoh dan ilmuwan besar berpengaruh asal kawasan Persia, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasa'i, Qadi Abdul Jabbar, Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Imam Al-Baihaqi, Al-Biruni, Jabir bin Hayyan, hingga Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Biodata Penulis
Yasir Amrullah, Guru Sejarah MAN 3 Bekasi Plus Keterampilan
Terus Menulis
Komunitas belajar bersama membudayakan aktivitas meneliti dan menulis ilmiah untuk membumikan gagasan dan memperluas cakupan pembaca

Komentar