![]() |
| Kota Persepolis (Sumber: UNESCO World Heritage Convention) |
Konflik
geopolitik di Timur Tengah terus menunjukkan dinamika yang kompleks. Namun, di
luar dinamika politik modern, Iran memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari
peradaban besar yang dahulu dikenal sebagai Persia. Persia bukan hanya sekadar
identitas bangsa atau batas wilayah geopolitik, melainkan sebuah pusat
peradaban, kebudayaan, dan kehormatan sejarah yang pernah memengaruhi
perjalanan dunia.
Rasulullah SAW telah mengisyaratkan bahwa wilayah
Persia kelak akan menjadi bagian dari bentang peradaban Islam. Isyarat sejarah
ini menemukan bentuknya ketika Putri Syahrbanu, putri dari Kaisar Persia
terakhir, Yazdegerd III, menikah dengan Imam Husain bin Ali (cucu Rasulullah
SAW). Pernikahan ini terjadi setelah wilayah Persia terintegrasi ke dalam
pemerintahan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Setelah menjadi bagian dari dunia Islam, kawasan Persia berkembang pesat menjadi salah satu pusat peradaban utama, khususnya pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada era keemasan ini, ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan berdirinya Baitul Hikmah, yang melahirkan banyak ilmuwan dan cendekiawan Muslim terkemuka. Wilayah pengaruh Islam pun semakin meluas hingga menjangkau Asia, Afrika, dan sebagian Eropa.
Bagi Indonesia, Persia bukan
sekadar wilayah geografis yang jauh, melainkan salah satu pilar penting dalam
sejarah syiar Islam di Nusantara. Banyak
penyebar agama Islam di Nusantara merupakan ulama asal Persia atau murid dari
ulama-ulama Persia. Jejak kontribusi mereka masih dapat dijumpai hingga hari
ini, antara lain melalui ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dan tradisi ejaan Persia
dalam pembacaan Al-Qur’an.
Tarekat
Naqsyabandiyah (yang oleh K.F. Holle dicatat sebagai Nasqsjibendijah)
merupakan tarekat besar dunia yang didirikan oleh Bahauddin An-Naqsyabandi di
Bukhara—wilayah yang saat itu berada dalam lingkup kebudayaan Persia. Teks-teks
utama Tarekat Naqsyabandiyah pada awalnya berwawasan bahasa Persia, sebelum
kemudian diterjemahkan dan dikembangkan oleh para cendekiawan seperti Syaikh
Ahmad bin Ibrahim bin ‘Alan (murid Syaikh Tajuddin Al-Hindi), sehingga diterima
secara luas di kalangan masyarakat Arab.
Di Nusantara, tarekat ini dipelopori dan
disebarkan oleh Syaikh Ismail Al-Minangkabawi. Beliau menerima pembaiatan dari
gurunya, Syaikh Khalid Al-Kurdi. Gelar Al-Kurdi menunjukkan bahwa guru
beliau berasal dari kawasan Kurdistan, wilayah yang dihuni oleh Suku Kurdi dan
berada dalam lingkup kebudayaan Persia. Selain itu, sejumlah tokoh ulama
Nusantara seperti Nuruddin Ar-Raniri, Abdurrauf As-Singkili, dan Syekh Yusuf Al-Maqassari
juga terhubung dengan jaringan keilmuan ulama Persia melalui silsilah guru
seperti Tajuddin Al-Hindi, Umar bin Abdullah Al-Bashri, Ba Syaiban, dan Ali
At-Thabari. Hingga kini, Tarekat Naqsyabandiyah tetap berkembang di Indonesia
dan berintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah menjadi Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah (TQN).
Jejak peninggalan ulama Persia lainnya adalah
metode mengeja Al-Qur’an. Jika pada umumnya pembacaan ejaan Al-Qur’an
menggunakan istilah Arab (fathah, kasrah, dan dhammah), di
beberapa daerah di Indonesia justru dikenal istilah ejaan Farsi (jabar, kajer,
dan kafes). Sebagai contoh: alif jabar a, alif kajer i,
dan alif kafes u. Tradisi ejaan ini terutama berkembang di wilayah yang
dahulu dipengaruhi oleh Kesultanan Cirebon, seperti Cirebon, Indramayu,
Majalengka, Kuningan, serta sebagian Brebes. Tradisi ini sejalan dengan
penyebaran gaya penulisan kaligrafi Arab-Farsi (Kufi Timur), yang juga
terlihat pada inskripsi batu nisan Sultan Malik As-Saleh di Samudera Pasai,
Aceh. Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya metode pembacaan modern
seperti Iqra dan Amtsilati, tradisi ejaan Farsi ini mulai surut.
Di bidang sastra, pengaruh kebudayaan Persia juga
sangat terasa. Sejarawan R.O. Winstedt dalam penelitiannya mengemukakan adanya
pengaruh kuat sastra Persia dalam naskah-naskah Melayu klasik, salah satunya Hikayat
Raja-Raja Pasai. Pengaruh tersebut terlihat jelas pada deskripsi
pertempuran antara tokoh pahlawan Samudera Pasai, Tun Berahim Bapa, melawan
Pendekar Keling. Pola penggambaran adegan tersebut memiliki kemiripan dengan
epos pertarungan Rustam dan Sohrab dalam mahakarya Shah-Nameh karangan
Firdausi, pujangga besar Persia abad ke-10 Masehi.
Demikianlah
para ulama dan kebudayaan Persia memberikan warna serta kontribusi sejarah yang
amat berharga bagi peradaban Islam di Nusantara. Khazanah keilmuan Islam
sejatinya sangat luas dan melampaui batas-batas geografis maupun mazhab,
sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya tokoh dan ilmuwan besar berpengaruh asal
kawasan Persia, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Imam At-Tirmidzi,
Imam An-Nasa'i, Qadi Abdul Jabbar, Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi,
Imam Al-Baihaqi, Al-Biruni, Jabir bin Hayyan, hingga Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani.

Social Media