Tak berselang lama, mobil Bu Arta membelah kabut tipis, disusul kehadiran Bapak Nugraha, PLT kepala sekolah kami saat ini. Begitu seluruh pasukan guru dan staf menempati kursi masing-masing, sekat-sekat formalitas langsung runtuh. Tanpa kehadiran siswa, wajah-wajah lelah yang biasanya akrab dengan tumpukan buku pelajaran dan layar laptop kini berubah sumringah. Aroma wangi pengharum ruangan bus beradu dengan aroma gurih lontong dan keripik dari dalam Tupperware ibu-ibu guru di barisan tengah.
Formasi tempat duduk ini seolah tercipta secara alami:- Barisan Depan: Singgasana tiga kepala
sekolah yang kompak berjiwa muda dan santai.
- Barisan Tengah: Markas logistik para ibu guru
yang tak pernah berhenti menawarkan camilan lintas kursi.
- Barisan Belakang: Wilayah kekuasaan para guru
muda—terutama guru olahraga dan agama—yang sudah memonopoli mikrofon,
bersiap menjadi artis jalur Pantura sepanjang perjalanan.
"Bapak dan Ibu sekalian, hari ini kita tinggalkan sejenak RPP, silabus, dan rapor. Kita healing! Mari tundukkan kepala sejenak, memohon keselamatan dalam perjalanan menuju Bandung Selatan..."
Doa dipanjatkan dalam khidmat, lalu—Brum! Klakson bus berbunyi nyaring. Roda-roda raksasa mulai menggelinding, diiringi alunan lagu nostalgia dari barisan belakang. Perjalanan panjang dimulai.
Pukul 16.00 sore. Bus akhirnya melambat dan merapat di destinasi tujuan: Ciwidey.
Begitu pintu bus terbuka, bukan sekadar pemandangan hijau yang menyambut, melainkan sapaan alam yang menusuk kulit tanpa permisi. Suhu udara anjlok drastis dalam hitungan detik. Sisa-sisa panas kota yang menempel di pundak seolah disapu bersih oleh hawa pegunungan yang pekat.
Seketika, insting bertahan hidup menyala. Resleting jaket ditarik rapat hingga dagu, tangan dimasukkan dalam-dalam ke dalam saku, dan bahu terangkat secara refleks. Setiap helaan napas berubah menjadi kepulan uap putih tipis di udara. Hidung memerah, tetapi di balik gigitan dingin itu, ada ketenangan magis yang langsung melunturkan segala penat rutinitas mingguan.
Saat malam benar-benar merangkak turun, Ciwidey menunjukkan taringnya. Dingin yang tadinya memeluk kini berubah agresif, menyusup lewat celah kain dan mencengkeram ujung-ujung jemari hingga terasa kebas. Namun, di dalam balutan jaket tebal, kehangatan justru diciptakan dari gelak tawa. Usai menyantap makan malam bersama, area karpet tebal di dalam ruangan mendadak berubah menjadi arena sirkus dadakan. Sang pemandu acara mengeluarkan kantong misterius berisi tumpukan kaos kaki warna-warni terang: merah menyala, kuning neon, hingga hijau terang. Instruksinya absurd tapi brilian: kaos kaki itu harus dipakai di kaki sekaligus di tangan sebagai sarung tangan darurat! Seketika, barisan pendidik terhormat itu berubah wujud menjadi sekumpulan "badut sirkus" yang saling menertawakan kekonyolan satu sama lain. Belum reda tawa kami, tantangan kedua dimulai: berjalan lurus di atas karpet dengan mata tertutup kain hitam, mengikuti garis tali rafia, sambil mempraktikkan teknik jalan menyilang (cross-step) ala Ibu Endang demi menjaga keseimbangan. Saat giliranku tiba, tubuh yang sudah terbungkus berlapis-lapis pakaian terasa kaku. Otak bingung mencerna arah, langkah pertama hampir membuatku limbung. Dengan konsentrasi penuh—kiri menyilang ke kanan, lalu kanan ke kiri—Tap! Kakiku mendarat sempurna di garis akhir. Sorak-sorai langsung pecah.
Menjelang tengah malam, kami
mundur ke kamar homestay. Jangan dibayangkan ruangan ini hangat; suhu di
luar yang anjlok membuat udara di dalam kamar terasa seperti di dalam kulkas. Untuk menyelamatkan diri, aku
mengenakan pertahanan berlapis: daster sebagai basis, dilapisi gamis longgar,
ditambah jaket tebal berkupluk, lalu dibungkus selimut tebal dan ditimpa bedcover
empuk hingga dagu. Aku sudah resmi berubah menjadi pinguin berbentuk kepompong.
Sialnya, hawa dingin Ciwidey terlalu tangguh; ia tetap merangsek masuk, membuat
gigiku bergemeletuk di dalam remang lampu kamar.
Belum selesai aku berjuang
melawan dingin, drama lain bermunculan di kamar yang sama:
- Di sebelahku, Bu Natasya meringis gelisah, memegang perutnya yang melilit hebat di tengah malam.
- Di sudut lain, Bu Ratu mendadak terserang batuk kering yang berat, napasnya tersengal-sengal di udara pegunungan yang menipis.
Aku dan Bibi Sasa berada dalam satu perahu karet. Jantung berdegup kencang, mengingat fisik Bibi Sasa harus dijaga ekstra. Baru saja perahu meluncur dan menghantam jeram pertama, pemandu berteriak, "Awas, bum!"
Tanpa pikir panjang, aku langsung sigap menahan tubuh Bibi Sasa agar tetap seimbang di sisi perahu. Melihat situasi yang makin liar, Pak Dino—yang duduk di seberang—berdiri untuk memindahkan Bibi ke posisi tengah yang lebih aman.
Dan di situlah hukum fisika bekerja secara komikal.
Tepat saat Pak Dino mengerahkan tenaga mengangkat tubuh Bibi, sebuah ombak kecil menghantam lambung perahu dari samping. Hilang keseimbangan, Pak Dino oleng ke depan, dan... BYUR!
Ia tercebur telak ke tengah sungai berarus dingin!
Detik berikutnya, jeritan tegang berubah menjadi gelak tawa histeris. Kami tertawa terbahak-bahak melihat Pak Dino berdiri di tengah sungai berair setinggi dada, basah kuyup, memegang dayung sambil nyengir lebar tanpa dosa. Insiden penyelamatan yang gagal itu sukses menjadi klimaks liburan paling kocak yang mencairkan seluruh ketegangan arung jeram hari itu.
Rangkaian perjalanan gila di Ciwidey akhirnya harus ditutup. Bus melaju kembali ke Tangerang Selatan, membelah jalan tol yang lengang.
Tubuh boleh lelah, mata boleh
mengantuk, dan koper-koper mungkin penuh dengan pakaian basah pasca-rafting.
Tapi di dalam kepala kami, memori tentang kabut tebal Ciwidey, kaos kaki warna-warni,
drama malam di homestay, hingga Pak Dino yang nyemplung ke sungai akan
tinggal sebagai cerita hangat yang paling dirindukan. Liburan singkat itu usai, tapi
tawa dan kebersamaannya resmi diabadikan selamanya.
Nurmilah, S.Pd., M.Pd

Social Media