BLANTERORIONv101

Hening Berkabut

2 Agustus 2026



 Penulis: Abinz Ncuhi Sangia
 Penerbit: PT. Adab Indonesia Grup
 Kota: Indramayu
 Cetakan: Pertama, Mei 2026
 ISBN: 978-634-276-673-6
 Halaman: viii + 132 hlm
 Harga: Rp 99.000
 PeresensiElan Jaelani Sidiq, S.Pd.I., M.Pd., Gr

Karya sastra berupa fiksi, khususnya cerpen, kerap menjadi media perenungan mendalam atas realitas sosial, kebudayaan, spiritualitas, hingga perjuangan hidup manusia. Antologi Cerpen Hening Berkabut karya Abinz Ncuhi Sangia (Ahmad Zakaria) hadir sebagai salah satu karya sastra bernas yang kaya akan diksi, nilai kebudayaan, dan kejujuran emosional. Penulis membawa keheningan cerita yang sarat kabut penderitaan, tradisi, dan perjuangan menuju cahaya harapan.

Abinz Ncuhi Sangia menyajikan narasi fiksi berbasis pengalaman spiritual, kultural (khususnya tradisi lokal Bima/Mbojo), dan perjalanan sosial. Garis besar isi buku ini terbagi ke dalam 15 judul cerpen yang mengulas lika-liku takdir, pertentangan antara adat dan cinta, pencarian hakikat spiritual, hingga penderitaan akibat musibah kemanusiaan. Narasi dibangun dengan gaya bahasa yang penuh metafora filosofis, menyisipkan istilah-istilah lokal Bima yang kaya makna.

Ide Utama Setiap Cerpen 

Buku ini memuat 15 cerita pendek yang saling melengkapi dalam mengusung tema-tema kebudayaan, kemanusiaan, dan ketuhanan:

  1.  Surat Hilang: Mengisahkan rasa perih akan kehilangan dan perpisahan cinta prematur yang membekas dalam duka.

  2. Aku dan Tradisi: Mengkritik pergeseran nilai adat tradisional dari karawi kaboju (gotong royong) menjadi benteng ego hedonistis dan mahar yang menindas pemuda tak berharta.

  3. Aku Mencari: Refleksi batin pemuda miskin harta yang terus melangkah menegakkan nilai khalifah di tengah kerancuan sosial.

  4. Dialog Cinta Tanpa Ujung: Obrolan imajinatif nan filosofis di sunyinya malam tentang anonimitas cinta, insting rasa, dan takdir.

  5. Hening Berkabut: Perjuangannya pantang menyerah seorang pemuda perantau yang mengawali karir dari tukang cuci piring hingga kuliah di Jakarta walau diterpa fitnah.

  6. Putri Salju: Perjuangan seorang perempuan terpelajar ber-rimpu mpida yang dihantam desas-desus "aliran sesat" saat berdakwah melestarikan budaya dan pendidikan di kampungnya.

  7. Roman Dua Jiwa: Ketulusan spiritual Bejoh yang dicap pemabuk oleh warga, namun memiliki keheningan munajat cinta yang murni kepada Sang Pencipta di akhir hayatnya.

  8. Khidir yang Bijak: Satir spiritual dan sosial mengenai kacau-balau kehidupan ketika kebohongan wali palsu menembus benteng kebaikan.

  9. Gintung Bersimbah Airmata: Duka mendalam peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung 2009 yang merenggut nyawa keluarga Zul serta kepedihan di balik panggung bantuan.

  10. Buku untuk Sahabat: Keteguhan anak-anak pelosok Selat Karampi (Langgudu) dalam menuntut ilmu di tengah keterbatasan fasilitas sekolah dan ekonomi.

  11. Nenek dan Sepotong Harapan: Potret kesabaran dan nilai kemanusiaan mendalam melalui kearifan seorang nenek menghadapi ujian hidup.

  12. Ayah Bunda Membunuhku: Kritik tajam terhadap pengekangan atau ekspektasi keliru orang tua yang mematikan cita-cita dan potensi anak.

  13. Bukan Salah Takdir Jodohku Terhempas: Pergumulan batin atas kegagalan cinta yang disebabkan oleh intervensi norma sosial dan adat, bukan kesalahan takdir ilahi.

  14. Gembira dan Duka: Antitesis realitas kehidupan; bagaimana kegembiraan dan duka senantiasa berkelindan dalam dinamika manusia.

  15. Takbiran Berderai Air Mata: Kerinduan dan kesedihan yang membuncah di malam kemenangan saat merenungi perpisahan dan kehilangan orang tercinta.

Kekuatan Buku

  1. Kekayaan Literasi Lokal: Penulis secara apik memasukkan unsur kebudayaan Bima/Mbojo (seperti rimpu, maja labo dahu, peta ka panca, istilah mone ma rangga) yang menambah bobot edukasi budaya.

  2. Gaya Bahasa Poetis dan Filosofis: Penggunaan diksi dan perumpamaan dalam buku ini sangat bernas, mampu membawa pembaca menyelami penderitaan dan keindahan makna secara mendalam.

  3. Pesan Moral dan Spiritual yang Kuat: Setiap cerita memuat nilai keteguhan iman, pantang menyerah pada kemiskinan, serta kritik sosial yang membangun.

Kekurangan Buku

  1. Penggunaan Istilah Lokal Tanpa Catatan Langsung: Beberapa frasa atau bahasa daerah Bima cukup tebal sehingga memerlukan pemahaman ekstra bagi pembaca awam di luar suku Mbojo.

  2. Alur Cerita Terkadang Sangat Abstrak: Pada bab-bab bermuatan dialog filosofis/surealis (seperti Dialog Cinta Tanpa Ujung atau Khidir yang Bijak), alur cerita terasa intuitif sehingga menuntut konsentrasi pembaca untuk menangkap maksudnya.

Evaluasi Akhir:

Antologi Cerpen Hening Berkabut karya Abinz Ncuhi Sangia merupakan sebuah karya sastra yang sarat akan makna kehidupan, kearifan lokal, dan kedalaman spiritual. Buku ini tidak sekadar menyajikan kisah fiksi hiburan, melainkan cermin sosial bagi tatanan adat yang kian tergerus zaman serta pengingat atas keteguhan jiwa manusia dalam menghadapi badai ujian.

Rekomendasi:

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kalangan akademisi sastra, mahasiswa kesusastraan, pendidik, pegiat budaya, serta masyarakat umum yang menyukai cerpen bergenre fiksi-filosofis. Karya ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang mencari inspirasi tentang keteguhan hidup dan keindahan warisan budaya Nusantara.

Biografi Presensi
Elan Jaelani Sidiq, S.Pd.I., M.Pd., Ketua Terus Menulis, Guru PAI SD Islam Al Syukro Universal, Dosen IAI Suryani Thaher, Dosen STAINU Bogor Raya.

Komentar