BLANTERORIONv101

Belajar Menyenangkan Pada Masa Pandemi

1 Agustus 2026

Penulis: Rohmatulloh
Penerbit: Maghza Pustaka
Kota: Pati 
Cetakan: Ke-2, 2020 
ISBN:  9786025824692
Halaman: x+138 
Harga: - 
Peresensi: Ida Rohyatul Aini
 
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dalam dunia pendidikan. Proses belajar mengajar yang semula berlangsung secara tatap muka (TM) harus beralih menjadipembelajaran jarak jauh (PJJ). Perubahan tersebut tidak hanya menuntutpenguasaan teknologi, tetapi juga mengharuskan guru, orang tua, dan pesertadidik beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai tantangan baru. Di tengahkondisi tersebut, muncul kebutuhan akan strategi pembelajaran yang tidak hanyaefektif, tetapi juga mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus tetap menanamkan nilai-nilai karakter.

Buku Belajar Menyenangkan padaMasa Pandemi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Penulis mengajak pembaca memahami bahwa pandemi bukan sekadar krisis kesehatan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan. Pendidikan karaktertidak boleh terhenti meskipun proses pembelajaran berpindah ke rumah dan ruang digital. Sebaliknya, situasi ini dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter peserta didik. 

Buku Belajar Menyenangkan pada Masa Pandemi disusun dalam empat bagian utama yang saling berkaitan. Meskipun setiap bagian terdiri atas artikel-artikel yang dapat dibaca secara mandiri, keseluruhannya memiliki benang merah yang sama, yaitu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan melalui penguatan pendidikan karakter. Penulis berupaya menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang dilakukan secara kolaboratif melalui peran keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pembahasan diawali dari lingkungan yang paling dekat dengan peserta didik, yaitu keluarga dan sekolah. Penulis menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan, melainkan harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama. Gagasan tersebut diuraikan melalui pembahasan mengenai penerapan pendidikan bermakna di rumah, kemudian diperkuat dengan penjelasan mengenai lima nilai utama karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada tataran konsep, penulis menghadirkan berbagai contoh implementasi melalui media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti film, kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW, pemanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran karakter, buku komik, hingga literasi energi. Beragam contoh tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat dikemas secara kreatif sehingga proses belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna.

Selanjutnya, pembahasan diperluas pada lingkungan masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga. Penulis memandang bahwa pembentukan karakter tidak hanya berlangsung di rumah dan sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kehidupan sosial. Hal ini terlihat melalui artikel "Corona dan Pembudayaan E-Learning" yang menggambarkan perubahan budaya belajar akibat pandemi, disertai pembahasan mengenai "Membangun Kelompok Berkarakter" dan "Dicari CPNS Milenial". Ketiga tulisan tersebut menunjukkan bahwa nilai karakter, seperti integritas, kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, dan semangat melayani, perlu ditanamkan sejak dini agar mampu membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi perubahan zaman.

Pembahasan kemudian berlanjut pada bagian ketiga yang memperlihatkan bahwa pendidikan karakter juga dapat ditanamkan melalui berbagai momentum kebangsaan dan budaya. Penulis mengangkat nilai perjuangan Kartini, budaya membaca , tradisi ketupat sebagai simbol saling memaafkan, penguatan nilai Pancasila, pelestarian budaya lokal, pembangunan kampung santri, hingga gerakan hemat energi. Melalui berbagai tema tersebut, penulis berhasil menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi tumbuh melalui pengalaman hidup, tradisi, budaya, dan interaksi sosial yang berlangsung dalam kehidupan
sehari-hari.

Gagasan tersebut semakin diperkaya pada bagian terakhir ketika penulis mengajak pembaca melihat berbagai tempat sebagai laboratorium pendidikan karakter. Pembahasan mengenai Masjid sebagai asas pertama hijrah Rasulullah SAW, pengalaman menemukan masjid yang nyaman di Tokyo, Bandung Planning Gallery, Sawahlunto sebagai kota literasi, hingga Menara Loji Jatinangor, memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar merupakan sumber belajar yang kaya akan nilai religius, kedisiplinan, kepedulian sosial, literasi, serta kecintaan terhadap budaya. Dengan demikian, buku ini menegaskan bahwa proses pendidikan sesungguhnya tidak dibatasi oleh ruang kelas, melainkan dapat berlangsung di mana saja selama peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Secara umum, buku ini memiliki sejumlah kelebihan. Bahasa yang digunakan komunikatif, sederhana, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari guru, mahasiswa, orang tua, hingga masyarakat umum. Penulis juga mampu menghubungkan teori pendidikan dengan praktik nyata sehingga setiap pembahasan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penyajian dalam bentuk kumpulan artikel menjadikan pembaca lebih leluasa memilih topik yang ingin dipelajari tanpa kehilangan keterkaitan dengan tema utama buku. Selain itu, kekuatan terbesar buku ini terletak pada kemampuannya mengintegrasikan pendidikan karakter dengan berbagai aspek kehidupan, seperti keluarga, budaya, lingkungan, agama, teknologi, dan masyarakat.

Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi catatan. Sebagian artikel memang lahir dari situasi pandemi Covid-19 sehingga pembahasannya sangat dipengaruhi oleh kondisi saat itu. Hal tersebut tampak pada artikel "Covid-19 dan Literasi Energi", "New Normal dan Pembelajaran Menyenangkan", serta "Corona dan Pembudayaan E-Learning". Ketiga artikel tersebut menggambarkan pembelajaran daring, pembatasan aktivitas masyarakat, serta adaptasi terhadap kebiasaan baru selama pandemi. Dalam konteks pendidikan saat ini, contoh-contoh tersebut memang memerlukan penyesuaian dengan perkembangan teknologi dan kebijakan pendidikan yang terus berubah, misalnya melalui penerapan pembelajaran digital yang lebih adaptif, blended learning, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta transformasi pembelajaran abad ke-21. Namun, penyesuaian tersebut lebih bersifat pada konteks implementasi, bukan pada substansi nilai yang dibangun penulis.

Justru di sinilah letak kekuatan buku ini. Meskipun ditulis dalam situasi pandemi, gagasan utama yang disampaikan penulis tetap memiliki relevansi yang kuat dengan implementasi kurikulum saat ini. Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning), kontekstual, aktif, dan memberi ruang bagi peserta didik untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna. Guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kreatif, kolaboratif, dan mendorong peserta didik berpikir kritis. Semangat tersebut tercermin dalam berbagai pembahasan buku ini, khususnya melalui pemanfaatan film, barang bekas, komik, maupun lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dapat dirancang lebih kontekstual sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan sekitarnya. 

Lebih jauh lagi, lima nilai karakter yang dibahas penulis, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas, memiliki keterkaitan erat dengan arah kebijakan pendidikan nasional saat ini yang menekankan penguatan karakter melalui Delapan Dimensi Profil Lulusan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berakhlak mulia, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, serta adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi.

Selain itu, isi buku ini juga selaras dengan implementasi pendekatan Deep Learning yang kini mulai diterapkan dalam pembelajaran. Pendekatan ini menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning), dan menggembirakan (joyful learning). Ketiga prinsip tersebut tampak jelas dalam gagasan penulis yang mengajak guru memanfaatkan pengalaman nyata, lingkungan sekitar, budaya lokal, maupun media pembelajaran kreatif sebagai sarana membangun karakter peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan membekas dalam kehidupan peserta didik.

Di sisi lain, buku ini juga menguatkan konsep Tri Pusat Pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga lingkungan utama dalam membentuk karakter anak. Gagasan tersebut bahkan menjadi benang merah dari keseluruhan isi buku. Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak mungkin dicapai apabila hanya mengandalkan sekolah, tetapi memerlukan sinergi seluruh ekosistem pendidikan. Pandangan ini sejalan dengan arah implementasi Kurikulum Merdeka yang menempatkan kolaborasi antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai salah satu faktor penting dalam menciptakan pembelajaran yang utuh, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

Buku Belajar Menyenangkan pada Masa Pandemi ini, tidak hanya layak dipandang sebagai dokumentasi praktik pendidikan pada masa Covid-19, melainkan juga sebagai refleksi sekaligus inspirasi bagi pelaksanaan pendidikan pada masa kini. Nilai-nilai yang ditawarkan penulis tetap relevan karena menekankan pentingnya kolaborasi Tri Pusat Pendidikan, pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, serta penguatan karakter sebagai tujuan utama pendidikan. Di tengah implementasi Kurikulum Merdeka, pendekatan Deep Learning, dan penguatan Delapan Dimensi Profil Lulusan, buku ini memberikan pesan bahwa pendidikan yang berkualitas bukan sekadar menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu membentuk generasi yang berkarakter, adaptif, humanis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Biografi Peresensi
Ida Rohyatul Aini, Tim Pengembang Kurikulum di Faradisa Islamic School, juga founder Bale Edukasi HaAza dan Bimbel Nazila Smart Academy, dua lembaga pendidikan yang berkomitmen menghadirkan layanan belajar berkualiitas dan berstandar global.













































































Komentar