![]() |
Kartu pos hari terbit pertama jalan raya pos (dok. penulis) |
Tangerang Selatan - Salah
satu koleksi kartu pos edisi hari terbit pertama 200 Tahun Jalan Raya Pos
(200 Years of The Great Post Road) yang dibeli di Kantor Pos Besar
Bandung Jalan Asia Afrika pada tahun 2014 menjadi awal cerita penjelajahan kami—Traveler
seperti Ibu Batutah.
Jalan
Raya Pos (De Grote Postweg) penting untuk ditelusuri sejarah dan perkembangannya
hingga saat ini karena banyak menyimpan pembelajaran nilai-nilai pendidikan
karakter yang dapat menginspirasi generasi muda dalam berkarya dan berinovasi. Banyak penulis buku novel dan
hasil penelitian, serta tulisan ringan lainnya di berbagai media massa cetak
dan daring (online) yang membahas topik ini dari berbagai aspeknya.
Salah satu koleksi buku di perpustakaan kami yang populer dibaca masyarakat terdidik maupun awam, yaitu karya Pramoedya Ananta Toer. Pembahasannya dari aspek kemanusiaan yang penuh kekejaman dibalik pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan yang dipimpin oleh pejabat kolonial Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1762-1818).
Tulisan lainnya,
karya akademisi Endah Sri Hartatik dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Diponegoro, yaitu artikel berjudul Perkembangan Jalan Raya Pantai Utara Jawa Tengah
sejak Mataram Islam hingga Pemerintahan Daendels yang dipublikasikan jurnal
terindeks Scopus Paramita: Historical Studies Journal pada tahun 2016, dan buku
Dua Abad Jalan Raya Pantura: Sejak Era Kerajaan Mataram Islam hingga
Orde Baru terbitan Nurmahera tahun 2018.
Beliau menjelaskan akar kronologis perkembangan Jalan Raya Pos sebagai jalur
transportasi sejak zaman Mataram Islam, Daendels, Rafless, Politik Etis, hingga
Orde Baru berdasarkan hasil riset disertasinya di Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora,
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tahun 2016.
Walaupun
telah disimpulkan bahwa Jalan Raya Pos ini bukan jalan yang benar-benar baru dibangun
dan diintegrasikan oleh Daendels karena jalan tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram. Singkatnya, Daendels hanya membangun pada beberapa sisi jalan saja dan mengintegrasikan jalan-jalan yang sudah ada hingga terhubung secara sistematis sebagai jalur transportasi yang berdampak pada perkembangan kota-kota yang dilintasinya. Oleh karena itu, dalam memoar perjalanan ini, kami tetap menggunakan tema Jalan Raya
Pos yang sudah begitu melegenda di masyarakat.
Catatan perjalanan di jalan raya ini memang lebih banyak berfokus pada perlintasan kota Jakarta, Bogor, Bandung, Sumedang sampai dengan Cirebon karena kehidupan rumah tangga dan keluarga, studi, dan pekerjaan kami lebih banyak di kota tersebut. Fokus perjalanannya lebih banyak mengulas tempat-tempat ibadah masjid sebagai pusat pendidikan dan situs sejarah lainnya yang banyak memberikan sumber inspirasi penananaman nilai-nilai pendidikan karakter terus berkarya dan berinovasi. Selamat mengikuti perjalanan Traveler, seperti Ibnu Batutah.

Social Media