BLANTERORIONv101

201 Tahun Perang Diponegoro 1825-1830

27 Juli 2026
Ilustrasi Museum Pangeran Diponegoro (Sumber: Buku Directory of Museums in Indonesia, 1999)

Tangerang Selatan - Bulan Juli Tahun 2026 ini merupakan peringatan 201 tahun Perang Diponegoro. Perang ini sendiri dimulai tanggal 20 Juli 1825, ketika pasukan yang dipimpin oleh Asisten Residen Chevalier merangsek masuk ke Puri Tegalrejo, kediaman resmi Sang Pangeran yang tidak mau tinggal di dalam riuhnya Kraton Yogyakarta. Sebetulnya, Ayah Sang Pangeran Sri Sultan Hamengkubuwono III pernah menawarkan tahta kraton untuk sang Pangeran, tetapi karena merasa tidak pantas meneruskan tahta itu, dengan halus dia menolaknya. 

Sang Pangeran sendiri lebih memilih tinggal di Puri Tegalrejo, berdekatan dengan tempat tinggal eyang buyut puterinya, yakni kanjeng Ratu Tegalrejo, ibu suri janda Sultan Hamengkubuwono I. Selain itu di Puri Tegalrejo, sang pangeran merasakan kedekatnnya dengan rakyat dan santri dibanding para pembesar kraton. 

Meskipun tahun 2026 ini tidak diperingati dengan meriah seperti peringatan 200 tahun Perang Diponegoro tahun 2025, tetapi setidaknya kita ingat bahwa perang ini adalah perang yang sangat ditakuti oleh penjajah Belanda. Bagaimana tidak? Perang ini telah membawa kebangkrutan parah yang dialami oleh Belanda, dan ini lebih parah dibandingkan dengan kerugian Belanda oleh korupsinya VOC, yang kemudian diejek dengan halus: Vergaan Onder Corruptie (Tenggelam karena Korupsi). Akumulasi kerugian Belanda akibat Perang Diponegoro diperkirakan mencapai 20 Juta Gulden, mungkin kalau sekarang 20 Juta Gulden itu sedikit, tapi kalau diingat, pendapatan Belanda dari mengeksploitasi Nusantara, setahun hanya sekitar 2 juta Gulden saja, itu berarti Belanda minus 2 Juta pertahun ketika melawan Perang Diponegoro.

Kerugian akibat Perang Diponegoro ini juga yang membuat Belanda tidak mampu mencegah kehendak rakyat Belgia untuk memisahkan diri dari kerajaan bersatu Belanda. Mereka memerdekakan diri tanggal 4 Oktober 1830, dan baru resmi diakui kedaulatannya oleh Belanda melalui Perjanjian London tahun 1839. Rakyat Belgia sendiri berkehendak untuk merdeka dari Belanda, ini terjadi karena merasa tidak puas atas ketidakadilan  Raja William I. Di satu sisi rakyat Belgia mayoritas beragama Katolik, sedangkan Belanda mayoritas beragama Protestan. Perbedaan inilah yang dianggap memunculkan ketidakadilan sosial yang dilakukan Raja William I pada rakyat Belgia.

Belanda sendiri mengecilkan arti Perang Diponegoro. Ini diawali dengan mematok tanah leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo untuk dijadikan jalan. Padahal sebetulnya yang terjadi adalah bahwa Belanda semakin dalam mencampuri kebijakan Kraton Yogyakarta, yang berhubungan dengan rakyat. Kala itu kepemimpinan Kraton Yogyakarta memang sedang dipegang oleh Dewan Wali Raja. Wali ini bertugas mendampingi Sri Sultan Hamengkubuwono V yang naik takhta usia 3 Tahun pada 1823. Salah satu anggota dewan wali adalah Residen Belanda di Yogyakarta Anthonie Hendrik Smissaert.

Smissaert sering mengabaikan dewan wali dan memanipulasi keputusan kraton, termasuk urusan sewa tanah yang banyak merugikan pihak Kraton Yogyakarta. Adalah patih Raden Adipati Danureja IV yang selalu mengikuti kehendak Smissaert, sebelum perang berkecamuk, patih ini pernah ditampar oleh Pengeran Diponegoro menggunkan selop akibat selalu mengikuti kehendak Belanda, dan Tamparan ini juga  yang membuat Patih Danureja IV dendam kesumat kepada Pangeran Diponegoro sehingga pecah perang dahsyat yang kemudian dikenal dengan Perang Jawa. 

Dan akhir paling menakutkan bagi Belanda, adalah ketika Belanda yang diwakili oleh Kolonel Jan Baptiste Cleerens, menerima surat perundingan dari Pangeran Diponegoro. Dalam surat itu Pangeran Diponegoro menulis dalam tulisan Arab Jawa Pegon, untuk mengajak Belanda berunding di Hutan Kamal Remo, yang kemudian dibaca oleh Cleerens dengan Hutan Kamal Rum, yang itu berarti mereka harus bertemu di Rum alias Turki Utsmani di Istambul Romawi, pusat kekuasaan kekaisaran Ottoman, dan lalu Sultan Turki melindungi Pangeran Diponegoro, sia-sialah perang dengan Diponegoro kalau akhirnya Pangeran itu malah dilindungi oleh Turki Ottoman. 

“Semula saya mengira tulisan “Remo” di dalam surat yang paduka kirim adalah Ruum. Saya takut bahwa yang paduka maksud adalah kita harus berjumpa di Ruum, alias Turki Utsmani, di Kekaisaran Turki Utsmani, lalu Sultan Turki Ustmani melindungi Paduka pribadi”. Kata Cleerens ketika bertemu Pangeran Diponegoro di Hutan Kamal Remo Bagelen (Purworejo) bulan Februari 1830. 

Biodata Penulis
Yasir Amrullah, Guru Sejarah MAN 3 Bekasi Plus Keterampilan 
Terus Menulis
Komunitas belajar bersama membudayakan aktivitas meneliti dan menulis ilmiah untuk membumikan gagasan dan memperluas cakupan pembaca

Komentar