Penerbit: PT Mizan Pustaka
Cetakan: Ke-4, Oktober 2021
Halaman: 217
Peresensi: Ida Rohyatul Aini
Pendidikan selalu menjadi harapan terbesar sebuah bangsa. Melalui pendidikan, masyarakat menaruh cita-cita untuk melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan, menciptakan kemajuan, dan menjaga keberlanjutan peradaban. Namun, di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, persaingan global, dan tuntutan kompetensi yang semakin kompleks, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Sekolah sering kali lebih sibuk mengejar capaian akademik, nilai ujian, dan berbagai indikator keberhasilan yang dapat diukur secara kuantitatif. Di sisi lain, pembentukan karakter, pengembangan empati, kesehatan mental, dan pertumbuhan spiritual peserta didik kerap berada di posisi kedua.
Fenomena
tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan saat ini masih
berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, atau justru terjebak pada
upaya menghasilkan individu-individu yang hanya unggul dalam aspek akademik?
Pertanyaan inilah yang menjadi inti perenungan dalam buku Memulihkan Sekolah,
Memulihkan Manusia: Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita karya Haidar
Bagir.
Buku
ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu Falsafah Pendidikan, Konsep dan
Metode Pendidikan, serta Falsafah Pendidikan Islam. Ketiga bagian tersebut
saling berkaitan dan membentuk satu gagasan besar bahwa pendidikan yang baik
harus mampu mengembangkan seluruh potensi manusia, baik intelektual, emosional,
sosial, moral, maupun spiritual. Dengan pendekatan yang reflektif dan
argumentatif, Haidar Bagir tidak hanya mengkritik berbagai praktik pendidikan
yang berkembang saat ini, tetapi juga menawarkan kerangka berpikir yang dapat
membantu mengembalikan pendidikan pada tujuan hakikinya.
Buku
ini hadir pada saat yang tepat. Ketika banyak pihak berbicara tentang
transformasi pendidikan, digitalisasi sekolah, dan perubahan kurikulum, Haidar
Bagir justru mengajak pembaca untuk kembali pada pertanyaan paling mendasar:
manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui pendidikan? Pertanyaan
sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami seluruh isi buku ini.
Pada
bagian pertama buku ini, Haidar Bagir mengajak pembaca menelaah kembali
landasan berpikir yang selama ini digunakan dalam menyelenggarakan pendidikan.
Menurutnya, berbagai persoalan pendidikan yang muncul saat ini tidak dapat
diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum atau memperbarui metode
pembelajaran. Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada cara pandang
terhadap manusia dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Penulis
mengkritik kecenderungan pendidikan modern yang terlalu menitikberatkan pada
pencapaian akademik. Sekolah sering kali mengukur keberhasilan peserta didik
berdasarkan nilai, peringkat, dan hasil ujian. Akibatnya, banyak aspek penting
dalam perkembangan manusia yang tidak mendapatkan perhatian yang memadai.
Padahal, manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, melainkan juga makhluk yang
merasakan, berinteraksi, memiliki nilai, dan mencari makna dalam hidupnya.
Dalam
bagian ini, Haidar Bagir juga menyinggung konsep multiple intelligences
yang diperkenalkan oleh Howard Gardner. Teori tersebut menunjukkan bahwa
kecerdasan manusia tidak hanya terbatas pada kemampuan logika dan bahasa,
tetapi mencakup berbagai bentuk kecerdasan lain seperti kecerdasan
interpersonal, intrapersonal, musikal, kinestetik, dan sebagainya. Melalui
pembahasan ini, penulis ingin menegaskan bahwa setiap anak memiliki keunikan
dan potensi yang berbeda. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak
memaksakan satu standar keberhasilan yang sama kepada seluruh peserta didik.
Gagasan
tersebut menjadi fondasi bagi pembahasan pada bagian kedua yang berfokus pada
konsep dan metode pendidikan. Pada bagian ini, Haidar Bagir mengulas berbagai
pendekatan pendidikan yang berkembang di dunia sekaligus mengaitkannya dengan
kondisi pendidikan Indonesia. Salah satu tema yang menonjol adalah kritik
terhadap budaya pengukuran yang berlebihan. Menurut penulis, dunia pendidikan
modern sering kali terjebak pada keyakinan bahwa segala sesuatu harus dapat
diukur. Akibatnya, aspek-aspek yang sulit diukur seperti karakter, empati,
kreativitas, integritas, dan kebijaksanaan justru kurang mendapatkan perhatian.
Dalam
konteks tersebut, penulis membahas konsep McNamara Fallacy, yaitu kesalahan
berpikir yang hanya menghargai hal-hal yang dapat diukur secara kuantitatif.
Fenomena ini sangat relevan dengan praktik pendidikan saat ini. Banyak sekolah
berlomba meningkatkan nilai akademik siswa, sementara pembentukan karakter
sering kali dianggap sebagai pelengkap. Padahal, dalam kehidupan nyata,
keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademiknya,
tetapi juga oleh karakter, kemampuan berkomunikasi, etos kerja, dan kematangan
emosionalnya.
Bagian
ini juga memuat pembahasan menarik mengenai sistem pendidikan Finlandia dan
Cina. Finlandia dikenal sebagai negara yang berhasil membangun sistem
pendidikan yang humanis, minim tekanan, dan berorientasi pada kesejahteraan
peserta didik. Sebaliknya, Cina dikenal dengan budaya disiplin dan standar
akademik yang tinggi. Haidar Bagir tidak menempatkan salah satu sistem sebagai
yang paling ideal. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memahami bahwa setiap sistem
pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan yang dipengaruhi oleh konteks
sosial, budaya, dan sejarah masing-masing negara.
Salah
satu gagasan yang paling mengesankan dalam buku ini terdapat pada pembahasan
mengenai sekolah sebagai tempat belajar menghadapi kegagalan. Dalam budaya
pendidikan yang sangat kompetitif, kegagalan sering dipandang sebagai sesuatu
yang harus dihindari. Anak-anak dibesarkan dalam tekanan untuk selalu menjadi
yang terbaik. Namun, Haidar Bagir berpendapat bahwa kegagalan justru merupakan
bagian penting dari proses pembelajaran. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang
aman bagi peserta didik untuk mencoba, melakukan kesalahan, belajar dari
pengalaman, dan mengembangkan ketangguhan mental. Pandangan ini terasa sangat
relevan di tengah meningkatnya tekanan psikologis yang dialami banyak pelajar
saat ini.
Pembahasan
kemudian berlanjut pada penggunaan teknologi dan tantangan pendidikan di era
digital. Penulis mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan
pendidikan itu sendiri. Kehadiran teknologi memang dapat memperkaya proses
pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia yang
menjadi inti pendidikan. Guru tetap memiliki peran penting sebagai pendamping,
teladan, dan fasilitator pertumbuhan peserta didik.
Bagian
ketiga buku ini membahas falsafah pendidikan Islam. Inilah bagian yang
memberikan warna khas sekaligus menjadi kekuatan utama buku ini. Haidar Bagir
menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Islam memiliki warisan pemikiran yang
sangat kaya dan relevan untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan modern.
Menurut
penulis, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang
berilmu, tetapi juga manusia yang beradab. Konsep tarbiyah dan ta'dib
dijelaskan sebagai dua pendekatan penting dalam pendidikan Islam. Jika tarbiyah
menekankan proses pengembangan dan pembinaan, maka ta'dib berfokus pada
pembentukan adab dan karakter. Kedua konsep tersebut menunjukkan bahwa
pendidikan dalam Islam tidak pernah memisahkan ilmu pengetahuan dari akhlak.
Pembahasan
mengenai pendidikan akhlak menjadi salah satu bagian yang paling relevan dengan
kondisi masyarakat saat ini. Tidak sedikit individu yang memiliki pendidikan
tinggi, tetapi terlibat dalam berbagai tindakan yang merugikan orang lain.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan
dengan kematangan moral. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menumbuhkan
kesadaran etis yang menjadi landasan dalam menggunakan ilmu pengetahuan.
Haidar
Bagir juga mengkritik kecenderungan pendidikan agama yang terlalu menekankan
aspek hafalan dan pengetahuan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama tidak
dapat diukur dari banyaknya materi yang dikuasai peserta didik, melainkan dari
sejauh mana nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan agama yang baik harus mampu melahirkan individu yang jujur, peduli,
rendah hati, dan bertanggung jawab.
Sebagai
sebuah karya pemikiran, buku ini memiliki sejumlah keunggulan yang patut
diapresiasi. Pertama, buku ini menawarkan perspektif yang komprehensif
dengan memadukan teori pendidikan modern dan nilai-nilai pendidikan Islam. Kedua,
argumentasi yang disampaikan memiliki landasan akademik yang kuat sekaligus
dekat dengan realitas pendidikan saat ini. Ketiga, gaya penulisan Haidar
Bagir yang reflektif membuat pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan baru,
tetapi juga terdorong untuk melakukan introspeksi terhadap praktik pendidikan
yang selama ini dijalankan.
Buku ini
juga memiliki beberapa keterbatasan. Pembahasannya yang cukup filosofis mungkin
terasa berat bagi pembaca yang mencari panduan praktis dalam pembelajaran.
Selain itu, beberapa gagasan yang ditawarkan masih memerlukan penjabaran lebih
lanjut agar dapat diterapkan secara konkret dalam lingkungan sekolah. Namun,
keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai sumber
refleksi yang kaya dan mendalam.
Secara
keseluruhan, buku “Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia” merupakan karya yang
menawarkan perspektif segar sekaligus mendasar tentang dunia pendidikan. Di
tengah berbagai upaya reformasi pendidikan yang sering berfokus pada aspek
teknis dan administratif, Haidar Bagir mengingatkan bahwa inti dari pendidikan
sesungguhnya adalah manusia. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat
memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang yang memungkinkan peserta didik
bertumbuh menjadi pribadi yang utuh.
Buku
ini berhasil menunjukkan bahwa berbagai persoalan pendidikan modern berakar
pada cara pandang yang terlalu sempit terhadap makna keberhasilan. Pendidikan
yang hanya berorientasi pada nilai dan prestasi akademik berisiko mengabaikan
aspek-aspek penting yang justru menentukan kualitas kehidupan seseorang. Karena
itu, pendidikan perlu kembali menempatkan karakter, akhlak, empati, dan
kebijaksanaan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
Buku ini sangat
direkomendasikan bagi guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang
kurikulum, mahasiswa pendidikan, orang tua, maupun para aktifis kebijakan.
Lebih dari sekadar menawarkan kritik, buku ini menghadirkan refleksi yang
membantu pembaca memahami kembali tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Dan pesan
utama yang ingin disampaikan Haidar Bagir sangat jelas; jika kita ingin
memperbaiki pendidikan, maka yang harus dipulihkan terlebih dahulu adalah cara
kita memandang manusia. Sebab ketika manusia kembali menjadi pusat pendidikan,
sekolah akan menemukan kembali jati dirinya sebagai tempat tumbuhnya
pengetahuan, karakter, dan kemanusiaan secara bersamaan.
Ida Rohyatul Aini, guru di Faradisa Islamic School dan wakasek kurikulum di SMP Islam Faradisa. Selain itu, Ia juga
fouder Bale Edukasi HaAza, wadah edukasi yang berfokus pada pengembangan budaya
belajar, membaca dan menulis.

Social Media