BLANTERORIONv101

Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia (Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita)

20 Juni 2026

 




Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Cetakan: Ke-4, Oktober 2021
Halaman: 217
Peresensi: Ida Rohyatul Aini

Pendidikan selalu menjadi harapan terbesar sebuah bangsa. Melalui pendidikan, masyarakat menaruh cita-cita untuk melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan, menciptakan kemajuan, dan menjaga keberlanjutan peradaban. Namun, di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, persaingan global, dan tuntutan kompetensi yang semakin kompleks, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Sekolah sering kali lebih sibuk mengejar capaian akademik, nilai ujian, dan berbagai indikator keberhasilan yang dapat diukur secara kuantitatif. Di sisi lain, pembentukan karakter, pengembangan empati, kesehatan mental, dan pertumbuhan spiritual peserta didik kerap berada di posisi kedua.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan saat ini masih berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, atau justru terjebak pada upaya menghasilkan individu-individu yang hanya unggul dalam aspek akademik? Pertanyaan inilah yang menjadi inti perenungan dalam buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia: Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita karya Haidar Bagir.

Buku ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu Falsafah Pendidikan, Konsep dan Metode Pendidikan, serta Falsafah Pendidikan Islam. Ketiga bagian tersebut saling berkaitan dan membentuk satu gagasan besar bahwa pendidikan yang baik harus mampu mengembangkan seluruh potensi manusia, baik intelektual, emosional, sosial, moral, maupun spiritual. Dengan pendekatan yang reflektif dan argumentatif, Haidar Bagir tidak hanya mengkritik berbagai praktik pendidikan yang berkembang saat ini, tetapi juga menawarkan kerangka berpikir yang dapat membantu mengembalikan pendidikan pada tujuan hakikinya.

Buku ini hadir pada saat yang tepat. Ketika banyak pihak berbicara tentang transformasi pendidikan, digitalisasi sekolah, dan perubahan kurikulum, Haidar Bagir justru mengajak pembaca untuk kembali pada pertanyaan paling mendasar: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui pendidikan? Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami seluruh isi buku ini.

Pada bagian pertama buku ini, Haidar Bagir mengajak pembaca menelaah kembali landasan berpikir yang selama ini digunakan dalam menyelenggarakan pendidikan. Menurutnya, berbagai persoalan pendidikan yang muncul saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum atau memperbarui metode pembelajaran. Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada cara pandang terhadap manusia dan tujuan pendidikan itu sendiri.

Penulis mengkritik kecenderungan pendidikan modern yang terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik. Sekolah sering kali mengukur keberhasilan peserta didik berdasarkan nilai, peringkat, dan hasil ujian. Akibatnya, banyak aspek penting dalam perkembangan manusia yang tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Padahal, manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, melainkan juga makhluk yang merasakan, berinteraksi, memiliki nilai, dan mencari makna dalam hidupnya.

Dalam bagian ini, Haidar Bagir juga menyinggung konsep multiple intelligences yang diperkenalkan oleh Howard Gardner. Teori tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya terbatas pada kemampuan logika dan bahasa, tetapi mencakup berbagai bentuk kecerdasan lain seperti kecerdasan interpersonal, intrapersonal, musikal, kinestetik, dan sebagainya. Melalui pembahasan ini, penulis ingin menegaskan bahwa setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang berbeda. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak memaksakan satu standar keberhasilan yang sama kepada seluruh peserta didik.

Gagasan tersebut menjadi fondasi bagi pembahasan pada bagian kedua yang berfokus pada konsep dan metode pendidikan. Pada bagian ini, Haidar Bagir mengulas berbagai pendekatan pendidikan yang berkembang di dunia sekaligus mengaitkannya dengan kondisi pendidikan Indonesia. Salah satu tema yang menonjol adalah kritik terhadap budaya pengukuran yang berlebihan. Menurut penulis, dunia pendidikan modern sering kali terjebak pada keyakinan bahwa segala sesuatu harus dapat diukur. Akibatnya, aspek-aspek yang sulit diukur seperti karakter, empati, kreativitas, integritas, dan kebijaksanaan justru kurang mendapatkan perhatian.

Dalam konteks tersebut, penulis membahas konsep McNamara Fallacy, yaitu kesalahan berpikir yang hanya menghargai hal-hal yang dapat diukur secara kuantitatif. Fenomena ini sangat relevan dengan praktik pendidikan saat ini. Banyak sekolah berlomba meningkatkan nilai akademik siswa, sementara pembentukan karakter sering kali dianggap sebagai pelengkap. Padahal, dalam kehidupan nyata, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademiknya, tetapi juga oleh karakter, kemampuan berkomunikasi, etos kerja, dan kematangan emosionalnya.

Bagian ini juga memuat pembahasan menarik mengenai sistem pendidikan Finlandia dan Cina. Finlandia dikenal sebagai negara yang berhasil membangun sistem pendidikan yang humanis, minim tekanan, dan berorientasi pada kesejahteraan peserta didik. Sebaliknya, Cina dikenal dengan budaya disiplin dan standar akademik yang tinggi. Haidar Bagir tidak menempatkan salah satu sistem sebagai yang paling ideal. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memahami bahwa setiap sistem pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan sejarah masing-masing negara.

Salah satu gagasan yang paling mengesankan dalam buku ini terdapat pada pembahasan mengenai sekolah sebagai tempat belajar menghadapi kegagalan. Dalam budaya pendidikan yang sangat kompetitif, kegagalan sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Anak-anak dibesarkan dalam tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Namun, Haidar Bagir berpendapat bahwa kegagalan justru merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik untuk mencoba, melakukan kesalahan, belajar dari pengalaman, dan mengembangkan ketangguhan mental. Pandangan ini terasa sangat relevan di tengah meningkatnya tekanan psikologis yang dialami banyak pelajar saat ini.

Pembahasan kemudian berlanjut pada penggunaan teknologi dan tantangan pendidikan di era digital. Penulis mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan pendidikan itu sendiri. Kehadiran teknologi memang dapat memperkaya proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia yang menjadi inti pendidikan. Guru tetap memiliki peran penting sebagai pendamping, teladan, dan fasilitator pertumbuhan peserta didik.

Bagian ketiga buku ini membahas falsafah pendidikan Islam. Inilah bagian yang memberikan warna khas sekaligus menjadi kekuatan utama buku ini. Haidar Bagir menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Islam memiliki warisan pemikiran yang sangat kaya dan relevan untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan modern.

Menurut penulis, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang berilmu, tetapi juga manusia yang beradab. Konsep tarbiyah dan ta'dib dijelaskan sebagai dua pendekatan penting dalam pendidikan Islam. Jika tarbiyah menekankan proses pengembangan dan pembinaan, maka ta'dib berfokus pada pembentukan adab dan karakter. Kedua konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak pernah memisahkan ilmu pengetahuan dari akhlak.

Pembahasan mengenai pendidikan akhlak menjadi salah satu bagian yang paling relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Tidak sedikit individu yang memiliki pendidikan tinggi, tetapi terlibat dalam berbagai tindakan yang merugikan orang lain. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kematangan moral. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran etis yang menjadi landasan dalam menggunakan ilmu pengetahuan.

Haidar Bagir juga mengkritik kecenderungan pendidikan agama yang terlalu menekankan aspek hafalan dan pengetahuan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama tidak dapat diukur dari banyaknya materi yang dikuasai peserta didik, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan agama yang baik harus mampu melahirkan individu yang jujur, peduli, rendah hati, dan bertanggung jawab.

Sebagai sebuah karya pemikiran, buku ini memiliki sejumlah keunggulan yang patut diapresiasi. Pertama, buku ini menawarkan perspektif yang komprehensif dengan memadukan teori pendidikan modern dan nilai-nilai pendidikan Islam. Kedua, argumentasi yang disampaikan memiliki landasan akademik yang kuat sekaligus dekat dengan realitas pendidikan saat ini. Ketiga, gaya penulisan Haidar Bagir yang reflektif membuat pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk melakukan introspeksi terhadap praktik pendidikan yang selama ini dijalankan.

Buku ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Pembahasannya yang cukup filosofis mungkin terasa berat bagi pembaca yang mencari panduan praktis dalam pembelajaran. Selain itu, beberapa gagasan yang ditawarkan masih memerlukan penjabaran lebih lanjut agar dapat diterapkan secara konkret dalam lingkungan sekolah. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai sumber refleksi yang kaya dan mendalam.

Secara keseluruhan, buku “Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia” merupakan karya yang menawarkan perspektif segar sekaligus mendasar tentang dunia pendidikan. Di tengah berbagai upaya reformasi pendidikan yang sering berfokus pada aspek teknis dan administratif, Haidar Bagir mengingatkan bahwa inti dari pendidikan sesungguhnya adalah manusia. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang yang memungkinkan peserta didik bertumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Buku ini berhasil menunjukkan bahwa berbagai persoalan pendidikan modern berakar pada cara pandang yang terlalu sempit terhadap makna keberhasilan. Pendidikan yang hanya berorientasi pada nilai dan prestasi akademik berisiko mengabaikan aspek-aspek penting yang justru menentukan kualitas kehidupan seseorang. Karena itu, pendidikan perlu kembali menempatkan karakter, akhlak, empati, dan kebijaksanaan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, mahasiswa pendidikan, orang tua, maupun para aktifis kebijakan. Lebih dari sekadar menawarkan kritik, buku ini menghadirkan refleksi yang membantu pembaca memahami kembali tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Dan pesan utama yang ingin disampaikan Haidar Bagir sangat jelas; jika kita ingin memperbaiki pendidikan, maka yang harus dipulihkan terlebih dahulu adalah cara kita memandang manusia. Sebab ketika manusia kembali menjadi pusat pendidikan, sekolah akan menemukan kembali jati dirinya sebagai tempat tumbuhnya pengetahuan, karakter, dan kemanusiaan secara bersamaan.


Biografi Peresensi

Ida Rohyatul Aini, guru di Faradisa Islamic School dan wakasek kurikulum di SMP Islam Faradisa. Selain itu, Ia juga fouder Bale Edukasi HaAza, wadah edukasi yang berfokus pada pengembangan budaya belajar, membaca dan menulis.



Komentar